Penyakit Sars dari Kelelawar

 Tugas : artikel penyakit pada pet dan satwa iar 

Nama : Muhammad Gufron

NIM: 193221026

Penyakit Sars dari Kelelawar

Deskripsi :

SARS-CoV-2  termasuk  dalam  family  coronaviridae  yang  mempunyai  kemampuan  rekombinasi yang sangat cepat, memiliki karakteristik mengandung material genetik ss-RNA, terdiri dari lapisan protein envelope(E), spike (S), membrane (M), dan nucleocapsid(N). Spikemerupakan   glikoprotein   berbentuk   tonjolan-tonjolan  yang  menyerupai  mahkota  yang berperanan  penting  dalam  pathogenesis dengan bantuan reseptor sel tubuh yang spesifik (Wiley, 2015). SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) masih menempatkan berita utama di sebagian besar media masa dunia. Dan bahkan hari demi hari masyarakat semakin panik karena jumlah pasien yang terus bertambah, sementara belum ada cara penanggulangannya. WHO telah menunjuk 11 laboratorium di berbagai negara, termasuk National Institute of Infectious Diseases (NIID)-Tokyo dan The Center for Disease Control and Prevention (CDC)-Atlanta, untuk meneliti virus penyebabnya. Pada awalnya peneliti di Cina mengatakan kalau penyebabnya adalah bakteri Chlamydia. Namun setelah itu peneliti dari Hongkong dan beberapa peneliti dari negara lainnya menduga bahwa ada dua kemungkinan penyebabknya, yaitu Coronavirus dan Paramyxovirus. Setelah melalui masa yang cukup lama, akhirnya WHO mengumumkan bahwa yang menjadi dalang SARS adalah Coronavirus. Kepastian terhadap Coronavirus ini adalah karena ditemukannya virus ini dari pasien SARS. Analisa yang dilakukan antara lain adalah analisa dengan mikroskop, PCR dan sekuensing. Hasil analisa mikroskop dan PCR memastikan bahwa virus yang bersangkutan adalah Coronavirus, namun dari hasil analisa sekuennya ditemukan perbedaan antara Coronavirus dari pasien SARS dengan Coronavirus yang ditemukan selama ini. Perbedaan sekuen ini menimbulkan prasangka bahwa kemungkinan virus penyebab SARS ini adalah Coronavirus yang sudah bermutasi. Karena perbedaan ini, khusus untuk Coronavirus penyebab SARS, diberi nama baru yaitu virus SARS.

Epidemiologi :

Prevalensi COVID-19 (coronavirus disease 2019) meningkat secara cepat di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) bahkan sudah menetapkan penyakit ini sebagai pandemi global. Hewan kelelawar dipercaya merupakan reservoir (inang) utama dari jenis Betacoronaviruses. Sedangkan, inang sekunder dari tipe ini adalah musang (SARS-CoV) dan unta (MERS-CoV). Investigasi epidemiologis menunjukkan kelelawar, ular dan trenggiling adalah inang intermediet dari SARS-CoV-2.

Gejala Klinis :

Gejala SARS biasanya muncul 2–7 hari setelah terinfeksi virus SARS-CoV, tetapi bisa juga baru muncul 10 hari setelahnya. Gejala infeksi virus ini bisa bervariasi pada tiap orang, tetapi secara umum akan muncul gejala berupa:

  • Demam, umumnya lebih dari 38°C
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Tubuh mudah lelah
  • Penurunan nafsu makan
  • Menggigil
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Diara
  • Mual
  • Muntah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gejala SARS mirip dengan gejala flu, tetapi dapat memburuk dengan cepat. Pada sebagian besar kasus, SARS akan berkembang menjadi pneumia, yaitu peradangan pada kantong udara di dalam paru-paru.

Patologi :

Patofisiologi COVID-19 (coronavirus disease 2019) diawali dengan interaksi protein spike virus dengan sel manusia. Setelah memasuki sel, encoding genome akan terjadi dan memfasilitasi ekspresi gen yang membantu adaptasi severe acute respiratory syndrome virus corona 2 pada inang. Rekombinasi, pertukaran gen, insersi gen, atau delesi, akan menyebabkan perubahan genom yang menyebabkan outbreak di kemudian hari. Virus-virus yang dikeluarkan kemudian akan menginfeksi sel ginjal, hati, intestinal, dan limfosit T, dan traktus respiratorius bawah, yang kemudian menyebabkan gejala pada pasien. Gejala dan tanda COVID-19 terutama berupa infeksi saluran napas, tetapi dapat juga menyebabkan gejala di saluran pencernaan seperti diare, mual, dan muntah, jantung seperti miokarditis, saraf seperti anosmia bahkan stroke, serta mata dan kulit.

Dampak Penyakit :

SARS diketahui berupa malaise, mialgia, demam, dan diikuti gejala pernapasan berupa batuk disertai kesulitan bernapas. Gejalanya juga dapat disertai dengan diare. Gejala-gejala ini memberat beberapa hari kemudian disertai dengan viraemia, 10 hari setelah onset. Dan bisa menyebabkan kematian.

Pencegahan Penyakit :

Vaksin untuk penyakit SARS belum ditemukan, oleh karena itu hindari berkunjung ke negara yang sedang terjangkit SARS, gunakan masker saat bepergian atau menjenguk pasien di RS, hal ini dapat membantu mengurangi penyebaran melalui udara, melalui percikan dan kontak langsung. Pola hidup sehat bisa kamu terapkan dengan melakukan hal-hal sederhana, seperti membiasakan cuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas, terutama bila banyak menyentuh benda. Menggunakan masker untuk mencegah penyebaran virus SARS melalui udara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING