Penyakit Ringworm Pada Anjing
Tugas : artikel penyakit pada pet dan satwa iar
Nama : Aloisius Primo Alvaro
NIM: 193221007
PENYAKIT RINGWORM PADA ANJING
Deskripsi
Ringworm merupakan penyakit
kulit yang dapat menular dan dapat disebabkan oleh cendawan yang bersifat
keratinofilik pada permukaan kulit atau bagian dari jaringan lain yang
mengandung keratin (bulu, kuku, rambut dan tanduk) baik pada hewan maupun
manusia. Beberapa spesies cendawan bersifat zoonosis karena hewan penderita
dapat menjadi penularan pada manusia dan sebaliknya. Mortalitas penyakit
rendah, nemun kerugian ekonomis akan dapat terjadi karena mutu kulit yang
menurun atau berat badan turun karena hewan selalu gelisah. Penyakit ini sering
dijumpai pada hewan yang dipelihara secara bersama-sama dan merupakan penyakit
mikotik yang tertua di dunia.
Pemberian nama ringworm pada
penyakit kulit ini karena pernah diduga penyebabnya adalah worm dan karena
penyebabnya dimulai dengan adanya peradangan pada permukaan kulit yang jika
dibiarkan saja akan meluas membentuk lingkaran yang menyerupai cincin.
Epidemiologi
Penyakit ringworm dapat
menginfeksi sapi, kuda, anjing, kucing dan unggas, demikian pula dapat
menyerang manusia. Ringworm memiliki banyak jenis yang sangat kontagius, yaitu
ringworm pada kucing, anjing, kuda, dan sapi mudah menular ke manusia.
Hewan
lain yang rentan terhadap cendawan ini antara lain kelinci, cavia, chinchillas,
mencit, rat, kalkun, kera. Kadang-kadang terjadi pada oposum, tikus air dan
jarang pada babi, kambing, burung liar, keledai.
Penyakit
ringworm juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang dimana penyakit ini
tersebar luas dinegara tropis, bahkan lebih menyebar dinegara-negara yang
memiliki suhu dingin.
Ringworm
cepat menular di antara kelompok hewan (morbiditas tinggi) dengan mortalitas
yang rendah. Zoofilik dermatophytosis dapat menyebabkan epidemik pada manusia.
Kaplan dkk melaporkan bahwa dari 360 anjing penderita ringworm, 10 % pemiliknya
mengalami infeksi, demikian juga 30% pemilik kucing yang terinfeksi menderita
penyakit ini. Perlu dicatat, bahwa hewan liar juga bisa menjadi reservoir dari
ringworm.
Hasil
penelitian Zurich dari 12.520 anak sapi penderita ringworm di abatoir (Rumah
Potong Hewan) selama tahun 1989, menunjukkan bahwa prevalensi ringworm 7 %
dengan maksimal 12,8 % pada bulan Juli dan minimun 5,1 % pada bulan Maret.
Prevalensi ringworm lebih tinggi pada peternakan dengan kelompok yang besar
dibanding dengan kelompok kecil. Sistem manajemen kontinyu memberikan
prevalensi 51 % dibanding dengan sistem all in all out 28 %.
Bentuk
yang dapat dikenali dari kulit manusia hampir sama dengan infeksi pada kulit
kucing atau hewan lainnya. Bulat kemerahan dengan lesi menyerupai kawah yang
terkadang berisi air, rasa gatalnya teramat sangat, apabila digaruk akan
semakin besar dan melebar dengan lesi yang semakin dalam. Penyembuhan secara
total pada hewan maupun manusia perlu dilakukan, penanganan yang tidak tuntas
memungkinkan cendawan tumbuh kembali sehingga lebih sulit dibasmi.
Penularan
penyakit ini dapat melalui kontak langsung bersentuhan antara hewan penderita
dengan hewan sehat, meskipun persentuhan tersebut tidak selalu menimbulkan
penyakit. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya persaingan antara cendawan itu
sendiri dengan organisme yang sudah menetap lebih dahulu pada kulit.
Perkembangan penyakit tergantung interaksi antara inang dengan cendawan
tersebut, sehingga perubahan kulit tidak selalu berbentuk cincin. Terutama bila
diikuti dengan infeksi sekunder.
Penularan
dari hewan ke manusia dan sebaliknya kadang terjadi terutama Microsporum canis.
Peralatan untuk perawatan hewan, sadel dan pakaian kuda sering sebagai penyebab
penularan penyakit.
5.
Faktor Predisposisi
Kondisi
geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan kelembaban
yang tinggi dapat memudahkan tumbuhnya cendawan. Hal ini yang memfasilitasi
banyaknya infeksi cendawan pada hewan piaraan maupun hewan besar, seperti sapi
dan hewan ternak lainnya. Faktor lain yang dapat menjadi predisposisi
terjadinya infeksi cendawan selain udara yang lembab, juga pada musim dingin
atau hujan terutama dalam keadaan basah dapat meningkatkan kejadian infeksi
cendawan. Ringworm merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum pada sapi.
6.
Distribusi Penyakit
Distribusi
geografis penyakit ini bervariasi Microsporum canis tersebar luas di dunia,
sedangkan Trichophyton concentricum diketahui hanya berada pada daerah
geografis tertentu.
Penyakit
ringworm banyak dijumpai di Indonesia meskipun publikasinya belum banyak.
Ringworm banyak ditemukan pada pasien hewan kesayangan seperti anjing dan
kucing.
Gejala
klinis
Di
tempat infeksi terdapat bentukan khas dari penyakit ini, yaitu terlihat seperti
cincin, namun gejala klinis bervariasi apabila disertai infeksi kuman lain.
Gejala dimulai dari bercak merah, eksudasi dan rambut patah atau rontok.
Perkembangan selanjutnya sangat bervariasi dapat berupa benjol kecil dengan
erupsi kulit atau berbentuk seperti tumor yang dikenal dengan kerion.
a.
Gejala pada anjing
Pada
anjing perubahan kulit biasanya dijumpai pada daerah muka, terutama Ladi
sekitar moncong, kaki dan perut bagian bawah, dengan pembentukan keropeng, erupsi
kulit dan rambut rontok. Gejala atipikal kadang muncul sebagai papula dan
pustula tanpa pembentukan alopesia atau sisik, lesi dengan batas jelas,
menonjol, eritrema, alopesia atau nodule diakhiri dengan kerion cincin, bisa
dibarengi dengan reaksi hipersensitif.
Patologi
Kelainan
pasca mati terbatas pada kulit dan pada dasarnya sama dengan tanda klinis.
Gambaran mikroskopis sering tidak spesifik dan mudah dikelirukan dengan
penyakit kulit lainnya. Cendawan terlihat di dalam ataupun di luar batang
rambut dan mudah dilihat dengan pengecatan PAS atau Gredley. Stratum koneum
terlihat menebal, epidermis mengalami hipertrofi disertai bendung darah dan
infiltrasi limposit. Jika terjadi infeksi folikel rambut, folikel menjadi
rusak. Jika terjadi infeksi sekunder, infiltrasi netrofil menjadi semakin
nyata.
Diagnosa
Diagnosa
penyakit ringworm dapat dilakukan dengan :
a.
Melihat gejala klinis yang spesifik. Tanda klinis yang dapat digunakan sebagai
pedoman adalah perubahan kulit berupa cincin disertai keropeng, rambut yang
rontok atau patah-patah atau timbulnya bentukan lesi membulat dan cenderung
meluas.
b.
Pemeriksaan langsung secara mikroskopis atau dengan cahaya Wood. Adanya
cendawan menunjukkan warna yang berpendar
c.
Pemeriksaan histologis dan pemupukan dengan kultur cendawan. Agar sabouround
glucose dapat digunakan sebagai standar kultur kecepatan tumbuh, perubahan wama
permukaan maupun warna punggung koloni dapat digunakan untuk pengenalan
meskipun terdapat variasi dalam spesies. Spesies Trichophyton dapat dibedakan
dengan uji nutrisi disamping pemupukan rutin dan pemeriksaan mikroskopik.
Dermatophyton dapat tumbuh dalam temperatur kamar, pH 6.8-8.7. Untuk menghambat
pertumbuhan bakteri dan cendawan saprofit dapat digunakan cyclohexaminide dan
chhloramphenicol dalam perbenihan.
d.
Diagnosa Banding
Ringworm
sering dikelirukan dengan perubahan kulit yang lain seper penyakit kudis,
gigitan serangga, infeksi bakteri dan radang kulit yang lain. Diagnosa dapat
dibuat dengan menemukan cendawan baik langsung maupun tidak langsung.
e.
Pengambilan dan Pengiriman Spesimen
Bahan
pemeriksaan dapat diperoleh berupa kerokan kulit, rambut atau kerokan serta
potongan kuku. Tempat yang diduga terinfeksi harus didesinfeksi dulu dengan
alkohol 70 % untuk menghilangkan pencemaran. Kerokan diambil dari tepi luka
yang masih dalam proses yang aktif kemudian bahan pemeriksaan dimasukkan
kedalam botol atau tabung steril ditutup rapat dan diberi tanda yang jelas.
Kemudian dikirim dengan desertai keterangan yang lengkap tentang penyakit dan
perubahan yang dijumpai.
Rambut
sebagai bahan pemeriksaan dapat diperoleh dari rambut yang patah atau dengan
mencabut rambut sampai pada pangkalnya, sedang potongan kuku diambil dari
pangkal kuku.
Pada
hewan penderita ringworm tetapi tidak menunjukkan tanda yang nyata, bahan
pemeriksaan dapat diperoleh dengan menyikat rambut dan kotoran rambut yang
berwarna keputihan dan tampung.
Bahal
pemeriksaan yang kering seperti keropeng atau rambut dapat dikirim dengan
menggunakan amplop atau kertas yang dilipat untuk menjaga tetap kering,
kemudian dimasukan ke dalam kotak, disertai surat dan keterangan lengkap
tentang penyakitnya.
Dampak
penyakit
Anjing yang terkena penyakit
ini akan merasa gatal, bercak gatal atau bersisik berwarna merah, coklat, atau
abu-abu, atau area kulit yang menonjol. Bisa juga mengalami sepetak kulit gatal
yang bulat dan rata, tambalan yang menyerupai cincin dengan warna yang lebih
dalam di bagian luar.
Pencegahan
penyakit
Usaha
pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kesehatan. tubuh hewan
dan kebersihan kulit hewan. Hewan penderita harus dijauhi baik oleh hewan lain
ataupun manusia kecuali yang ditugaskan merawat hewan tersebut. Menjauhi dan
mendesinfeksi tempat yang diduga menjadi sumber spora. Diduga miselia
dermatophyta mampu merangsang pembentukan antibodi. Telah diketahui bahwa
jaringan mengandung suatu zat yang disebut "serum faktor" yang
bersifat fungisida dan fungistatika dan zat inilah yang diduga membatasi
pertumbuhan dermatophyta hanya pada bagian kulit yang mengalami keratinisasi
saja. Dermatophyta bersifat antigenik yang lemah tetapi sangat alergik. Reaksi
hipersensitisasi merupakari kejadian yang sering terjadi pada infeksi dengan
dermatophyta.
Vaksin
yang dibuat dari T.verrucosum pernah digunakan untuk pengebalan terhadap
ringworm pada anak sapi. Vaksin hidup kering beku telah dicoba pada 422 anak
sapi bersama dengan kontrol, kemudian ditantang dengan T.verrucosum ganas.
4,4-9 % hewan yang divaksinasi hanya mengalami gejala klinis yang ringan antara
hari ke 14-25 dan pada hari ke 28, 99-100% hewan yang divaksinasi terllindungi
sepenuhnya.

Komentar
Posting Komentar