penyakit FPV pada kucing

 Tugas : artikel penyakit pada pet atau satwa liar 

Nama : Dilla Chelsea Aziizahrani Santoso  

NIM: 193221041

                                                             FPV

Dekripsi :

Feline Panleukopenia (FPL) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Feline Panleukopenia Virus (FPV) dengan morbiditas dan mortalitas tinggi pada kelompok famili Felidae (Kruse et al., 2010; Hartmann, 2017). Penyakit ini disebabkan oleh virus tipe DNA, famili Parvoviridae subgrup feline parvovirus. Infeksi FPV menyerang segala umur kucing dengan morbiditas dan mortalitas tertinggi terjadi pada anak kucing hingga umur 12 bulan. Kematian dapat mencapai 25-90% pada panleukopenia akut dan 100% pada infeksi per akut. (AbdEldaim et al., 2009; Kruse et al., 2010). Virus ini menyerang jaringan pembentuk darah dan limfe serta mukosa organ gastro intestinal, sehingga menyebabkan enteritis yang disertai penurunan jumlah leukosit. Anak kucing, kucing sakit dan kucing yang tidak divaksin adalah individu yang lebih rentan tertular. Kucing dewasa biasanya lebih tahan karena mempunyai kekebalan bawaan atau sudah berulang kali terinfeksi. Mende et al. (2014) melaporkan bahwa status vaksinasi berhubungan secara signifikan dengan kurangnya antibodi melawan FPV. Apabila induk kucing menyusui anaknya maka anak kucing akan memperoleh kekebalan laktogen. Kekebalan pasif

Epidemiologi:

Infeksi FPV telah ditemukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penentuan diagnosis adanya FPL di klinik praktisi dokter hewan seringkali didasarkan ketika gejala klinis sudah menciri, dimana kondisi kucing penderita sudah parah. Hal ini mengakibatkan prognosis dan terapi yang diberikan tidak dapat memberikan efek maksimal.

Gejala klinis :

Anak kucing atau kucing yang mengidap FPV akan menunjukkan beberapa gejala yang berbeda. Selalu perhatikan salah satu dari gejala berikut:

·         Demam

·         Depresi

·         Muntah

·         Diare (sering kali disertai darah)

·         Dehidrasi

Hal ini juga dapat mengakibatkan kematian mendadak. Kucing-kucing yang bertahan hidup beberapa hari pertama akan mengalami imunosupresi dan kehilangan fungsi sistem kekebalan tubuhnya. Hal ini karena virus tersebut menghancurkan sel darah merah yang melawan infeksi dan berarti mereka dapat dengan mudah mengalami infeksi sekunder seperti septisemia. Jika kucing terinfeksi saat hamil, kemungkinan dia akan keguguran, lahir mati, atau melahirkan anak kucing dengan perkembangan otak abnormal (cerebellar hypoplasia).

patologi:

Penyebaran FPV dapat terjadi melalui jalur fekal-oral dan dapat ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh hewan terinfeksi, feses, atau benda yang tercemar oleh virus. Virus ini memiliki resistansi yang tinggi di lingkungan dan dapat bertahan paling tidak satu tahun pada material organik yang tercemar. Kontak dengan benda yang tercemar seperti kandang, tempat pakan, serta tangan, sepatu, atau pakaian merupakan cara penularan yang memungkinkan pemilik kucing untuk membawa virus ke dalam rumah sehingga dapat menginfeksi kucing mereka yang sepenuhnya berada di dalam rumah tanpa akses pada kucing luar lainnya Replikasi FPV terjadi di orofarings setelah 18-24 jam terjadi infeksi secara oral atau intranasal. Selanjutnya diikuti dengan viremia selama 2-7 hari, merupakan waktu virus didistribusikan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Semua parvovirus, termasuk FPV, bersifat ‘otonom’ yaitu tidak memerlukan helper virus tetapi memerlukan sel yang membelah secara cepat pada fase S untuk replikasi virus. Virus ini memerlukan polimerase DNA seluler sehingga virus dapat mensintesis sebuah untaian DNA komplemen. Oleh karena itu, replikasi virus terutama terjadi pada jaringan yang aktif mitosis seperti jaringan limfoid, sumsum tulang, dan mukosa intestinal pada kucing yang berumur lebih dari enam minggu

 

Diagnose:

Penentuan diagnosis adanya FPL di klinik praktisi dokter hewan seringkali didasarkan ketika gejala klinis sudah menciri, dimana kondisi kucing penderita sudah parah. Hal ini mengakibatkan prognosis dan terapi yang diberikan tidak dapat memberikan efek maksimal. Dewasa ini telah berkembang cara diagnosis FPL dengan menggunakan kit untuk melihat adanya FPV di dalam feses, namun demikian selain harganya cukup mahal metode ini tidak dapat memperkirakan keparahan penyakit. Keparahan penyakit dapat dilihat salah satunya dari jumlah rendahnya leukosit dari kucing yang terinfeksi FPV (Greene, 2012). Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi jumlah leukosit untuk menentukan prognosis pada kucing penderita Feline Panleukopenia, jantan dan betina berbagai umur.

 

Dampak penyakit:

mengakibatkan kucing menjadi diare yang berdarah, dehidrasi, malnutrisi, anemia, dan bahkan kematian langsung. Nama dari panleukopenia sendiri mengacu pada rendahnya jumlah sel darah putih (leukosit) pada kucing yang terserang penyakit ini. Ketika sel darah putih berkurang, sistem kekebalan tubuh melemah. Sebagian besar kucing yang terinfeksi FPV bisa mati karena dehidrasi yang disebabkan oleh diare atau infeksi sekunder yang dipicu oleh kelemahan sistem kekebalan tubuh.

pencegahan penyakit:

Kucing pada usia di bawah 8 minggu memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk sembuh dari penyakit FPV dibandingkan dengan kucing yang lebih dewasa, terlebih apabila kucing kecil mendapatkan penanganan medis yang terlambat. Kucing yang menderita FPV membutuhkan perawatan dan pengobatan yang intensif untuk mendukung kesehatannya dengan obat-obatan dan dan cairan infus sampai tubuh dan sistem imun mereka cukup kuat untuk dapat melawan virus tersebut. Tanpa adanya supportive care, kucing yang sakit mendapatkan lebih kecil kemungkinan untuk bisa tertolong.

Pengobatan yang dilakukan oleh dokter hewan lebih fokus pada mengatasi dehidrasi, gejala klinis, menjaga kebutuhan nutrisi, dan mencegah terjadinya infeksi lain dengan cara memberikan antibiotik. Sistem imun yang tidak berfungsi dengan baik dan kerusakan usus pada kucing yang terinfeksi akan mempermudah agen infeksi masuk ke dalam tubuh. Kucing yang sakit perlu diisolasi ketat untuk mencegah penularan dan penyebaran virus ke kucing lain. Umumnya, setelah kucing sembuh dari penyakit FPV, kucing tersebut tidak menginfeksi kucing secara langsung, namun tetap bisa menyebarkan virus melalui feses dan air seni sampai 6 minggu setelah kucing sembuh.

Tidak ada obat yang dapat membunuh virus ini, tetapi penyakit FPV dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi yang teratur dapat menurunkan risiko kucing terserang penyakit FPV. Selain itu, menjaga kebersihan alas tidur, peralatan, kandang, serta tempat makan dan minum dapat mencegah penyebaran penyakit ini.

  #TUGASHALOHMKH2022

#DILLA_CHELSEA_AZIIZAHRANI_SANTOSO

#06_RAILLIETINA ECHINOBOTHRIDA

#KHSIKIAUNAIR


Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING