PENYAKIT COLIFORM DIARRHEA PADA BADAK

 

Nama : Mufidah Khairunnisa Salsabila

Nim : 193221037

Kelompok : 2 – Davainea Proglotina

Artikel penyakit pada pet atau satwa liar

 

PENYAKIT COLIFORM DIARRHEA PADA BADAK

 

Coliform diarrhea adalah kasus ini sering dijumpai di Taman Safari ataupun Kebun Binatang yang disebabkan oleh bakteri kelompok Coliform. Tanda-tanda selain diare,nafsu makan berkurang dan temperature naik.

 

A.    PENDAHULUAN

 

Badak merupakan salah satu mamalia besar di Indonesia yang terancam punah. Di Indonesia terdapat dua spesies badak yaitu badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Badak sumatera, juga dikenal sebagai badak berambut atau badak Asia bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis),[5] merupakan spesies langka dari famili Rhinocerotidae dan termasuk salah satu dari lima spesies badak yang masih ada.

 

Badak sumatera merupakan badak terkecil. Tingginya 112-145 cm sampai pundak, dengan panjang keseluruhan tubuh dan kepala 2,36-3,18 m, serta panjang ekornya 35–70 cm. Beratnya berkisar antara 500 sampai 1.000 kg, dengan rata-rata 700–800 kg, meskipun ada suatu catatan mengenai seekor spesimen dengan berat 2.000 kg. Sebagaimana spesies badak Afrika, badak sumatera memiliki dua cula; yang lebih besar adalah cula pada hidung, biasanya 15–25 c.

 

Badak jawa adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak india dan memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja. Badak ini memiliki panjang 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Badak ini lebih kecil daripada badak india dan lebih dekat dalam besar tubuh dengan badak hitam. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.

 

B.    EPIDEMOLOGI

Coliform diarrhea pada hewan badak disebabkan oleh air minum yang diminum oleh badak tercemar dan Tempat kubangan yang berisi air berlumpur Hal ini mengingat kesukaan badak berkubang sebagai thermoregulasi. Sedangkan badak India lebih menyukai air bersih untuk berkubang. Badak Afrika lebih menyukai kubangan lumpur.

 

C.    PENGENALAN PENYAKIT

Sumber infeksi bagi badak yang ditangkarkan adalah Makanan dan air, Manusia Para pengelola dan pengunjung dapat merupakan sumber penyakit jika tubuhnya tercemar oleh agen penyakit. Alat yang dipakai untuk mengelola seperti gerobak, tempat makanan, dapat menjadi sumber penyakit. Tempat yang tidak memenuhi persyaratan atau yang sudah tercemar akan memperparah penyakit, demikian pula halnya dengan kandang yang tercemar.

 

D.    DAMPAK PENYAKIT

Kondisi badak jawa hingga saat ini masih dalam status kritis karena terancam dari ketersediaan pakan dan aktivitas illegal masyarakat sekitar. Menyusutnya habitat badak juga membuat penyebaran penyakit dari ternak peliharaan ke badak terjadi. Ditambah dengandanya penyakit coliform diarrhea badak jawa semakin terancam keberadaannya

 

E.    PENCEGAHAN PENYAKIT

 

Pengobatan bagi badak secara topikal dapat diaplikasikan melalui semprotan tangan. Badak dewasa diobati secara peroral dengan mencampur obat dengan gandum basah/kulit padi atau pada air minum.

Jika pengobatan akan diberikan melalui injeksi, satwa ini harus aman dan dibatasi, misalnya dimasukkan ke dalam kandang penjepit.

Untuk pengobatan diare yang disebabkan oleh coliform, dapat diberikan Neomycin Sulfate (25 mg/kg BB), Furazolidone (5 mg/kg BB) peroral, dan Gentamycin Sulfate (2 mg/kg BB) secara intramuscular.

Untuk kasus helminthiasis (penyakit cacing) diberikan obat Thiabendazol (50 mg/ kg BB) yang dicampur dengan kulit padi, atau Levamisole (8 mg/kg BB) melalui air minum, selain juga dapat diberikan mebendazol yang dimasukkan ke dalam pellet.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING