CANINE DISTEMPER PADA ANJING


Nama               : Lutfiyah Zain

NIM                 : 193221045

Kelompok         : Raillietina Echinobohrida

 


ARTIKEL PENGENALAN DUNIA KAMPUS VETERINER

PENYAKIT CANINE DISTEMPER

Berdasarkan survey World  Society  for  the  Protection of Animal (WSPA) di Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan   jumlah   populasi   hewan peliharaan dengan jenis anjing sebesar 8 juta dan populasi jenis kucing  sebesar  15  juta.  Perkembangan  dari  populasi anjing selama kurang lebih 5 tahun meningkat sebesar 22% (peringkat 9 dari 58 negara) dan pada populasi kucing bertambah sebesar 66% (peringkat 2 dari 58   negara) (Nurlayli &Hidayati,   2014).

Besarnya populasi   anjing seringkali  juga  diikuti  permasalah kesehatannya.  Beberapa  penyakit seringkali  menjangkiti  hewan  kesayangan ini  seperti  disebabkan oleh  bakteri,  parasite,  virus,  jamur, kutu,dan  juga diakibatkan keracunan,  kebakaran,  kecelakaan,  dan juga kondisi  fisik  hewan  itu  sendiri  (Himawan et  al.,2018).Lobetti (2003) menyebutkanbeberap penyakit  seperti parvovirus, distemper, infectious  canine hepatitis,  rabies, norovirus, papillomatosis, calicivirus,  papillomavirus hingga herpesvirus. Ghasemzadeh & Namazi (2015) menegaskan bahwa rabies dan norovirus merupakan zoonosis ke manusia.Beberapa  praktisi  sering  melaporakan  beberapa penyakit  anjing  disebabkan Canine  Parvovirus. Canine  Distemper  Virus,  Canine  Adenovirus, Canine  Papillomavirus.Penyakit Parvo juga  dikenal  sebagai penyakit  muntaber  pada anjing disebabkan  oleh Canine Parvovirus (CPV) yang termasuk  dalam family parvoviridae(Lobetti, 2003).

Distemper adalah salah satu penyakit menular yang menyerang Anjing. Penyakit tersebut disebabkan oleh virus dalam genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae dan mempunyai hubungan dekat dengan virus measles dan rinderpest (Frisk et al., 1999; Mochizuki et al., 1999; Rudd et al., 2006). Penyakit distemper merupakan penyakit yang sangat infeksius.Virus distemper dapat menyerang famili Canidae, Mustelidae, dan Procyonidae (Headley dan Graca, 2000). Penyakit tersebut telah dilaporkan kejadiannya pada mamalia air seperti anjing laut (Kennedy et al., 2000) dan anjing liar di Afrika (Bildt et al., 2002; Spenser dan Burroughs, 1992). Walau pun kucing dan babi telah dapat diinfeksi secara eksperimental, hal tersebut dianggap tidak penting dalam penyebaran distemper anjing (Headley dan Graca, 2000). Virus distemper tidak dapat bertahan lama di luar induk semang dan peka terhadap desinfektan seperti senyawa fenol atau ammonium kuaterner (Sellon, 2005).

Secara patologi, anjing yang terinfeksi virus distemper dapat menyebabkan multi-sistemik infeksi. Gambaran klinis darah perifer dari anjing yang terinfeksi virus ini mula-mula mengakibatkan terjadinya lymphopenia, walaupun pada tingkat sub akut sampai kronis diikuti dengan meningkatnya jumlah monosit / peripheral blood mononuclear cells (Nielsenet al, 2009). Penyebaran umumnya dimulai dari virus yang terinhalasi oleh anjing. 

Pada peradangan akut, virus akan menginfeksi dan bereplikasi pada sel makrofag dan limfosit pada daerah saluran pernafasan yang selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. anjing yang telah terinfeksi akan tampak lesu, depresi, anoreksia, eksesif discharge pada bagian naso-ocular serta tidak jarang diikuti dengan gejala diare (Lan et al, 2006). Pada stadium kronis anjing penderita akan tampak inkoordinasi sampai tidak mampu mengontrol mikturisi. Hal ini disebabkan adanya kerusakan pada sel-sel otak dan bahkan bisa menimbulkan kematian pada sel-sel tersebut (Rudd et al, 2009).

Sistem saraf pusat merupakan sistem akhir yang diserang oleh CDV. Di lapangan, banyak anjing yang terinfeksi CDV bertahan dengan menyisakan gejala saraf sepanjang hidupnya dengan gejala seperti apatis, gangguan motorik pada kaki dan otot wajah, beberapa kasus anjing teramati menyeret kakinya, bahkan sampai tidak dapat berdiri atau mengalami paralisis total. Studi yang dilaporkan oleh Griot et al., (2003) menjelaskan bahwa hingga 30% distemper anjing menunjukkan keterlibatan neurologis selama atau sesudah infeksi CDV dan sebagian besar hewan karnivora liar yang mati akibat CDV memiliki bukti infeksi pada sistem saraf pusat.

Canine distemper tidak termasuk ke dalam penyakit zoonosis, sehingga manusia tidak akan terdampak. Meskipun begitu, manusia dapat bertindak sebagai media penular dari anjing penderita ke anjing yang sehat.

Penularan canine distemper dapat terjadi secara kontak langsung, batuk anjing, saliva, urine, feses, bersin, serta peralatan atau benda yang terkontaminasi oleh virus. Virus distemper memiliki hubungan antigenik dengan Measles dan Rinderpest.Anjing yang sudah pernah terserang virus rinderpest akan memberikan kekebalan terhadap canine distemper. Begitu juga dengan anjing yang sembuh dari distemper, memiliki kekebalan terhadap penyakit measles.

Gejala penyakit Canine Distemper itu bisa seperti terkena demam,lemas,murung,peradangan mata dan ingus,batuk kering,tidak nafsu makan,muntah disertai diare,gemetar dibagian kepala,kejang,dan kelumpuhan.

Pencegahan penyakit yang parah dapat dilakukan dengan program vaksinasi distemper, yaitu dengan menggunakan vaksin aktif. Vaksin aktif berasal dari virus distemper yang telah diatenuasi pada telur ayam berembrio (TAB) dan tissue culture pada fibrobalst embrio ayam.Karena virus distemper memiliki hubungan antigenik dengan measles, maka vaksin measles juga dapat diberikan untuk anak anjing dengan umur kurang dari 3 bulan. Di mana pada saat itu, anak anjing masih memiliki antobodi maternal dari induknya.

Pengobatan dapat dilakukan secara symptomatis atau dengan serum hiperimun. Pengobatan symptomatis digunakan untuk menghilangkan gejala yang merugikan. Sedangkan serum hiperimun merupakan antiserum dengan kadar antibodi yang tidak diketahui, berasal dari anjing dengan inokulasi virus distermper secara berulang.

Terdapat dua jenis vaksin untuk Canine Distemper Virus yang tersedia yaitu MLV dan rCDV. Pemberian vaksin Canine Distemper Virus biasanya telah dalam kombinasi dengan parvovirus dan adenovirus-2. Pemberian vaksin Canine Distemper Virus dimulai sejak anjing berumur 6 minggu dengan interval pemberian vaksin 3 – 4 minggu sampai pada umur 16 minggu.

Anjing harus divaksinasi kembali 1 tahun setelah pemberian vaksin Canine Distemper Virus terakhir kali pada tahap awal. Vaksin komersial dapat memberikan kekebalan berkelanjutan yang dapat bertahan sampai beberapa tahun. Pada anjing dewasa, vaksinasi Canine Distemper Virus dianjurkan setiap 3 tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING