FLUTD pada Kucing
NAMA : ALFI HIDAYATUS SHOLIHA
NIM : 193221035
PRODI : Kedokteran Hewan
FLUTD
pada Kucing
Feline lower
urinary tract disease (FLUTD) terjadi
karena adanya disfungsi
dari kantung kemih maupun
uretra pada kucing. Salah satu
simptom dari FLUTD
yaitu polakiuria tanpa disertai
poliuria, adanya
stranguria dan hematuria.
hampir kebanyakan kucing yang
mengalami FLUTD terjadi karena terjadinya feline idiopathic, interstitial
cystitis, urolitiasis, infeksi bakterial
pada saluran urinari, malformasi
anatomi saluran urinari, neoplasia, behavioral
disorder, dan gangguan syaraf seperti refleks dysnergia
(Mihardi, dkk, 2018).
Kasus FLUTD
sering kali dapat
dikenali ketika kucing menunjukkan gejala klinis antara lain hematuria,
pollakiuria, stranguria, periuria, disuria dan membesarnya VU. Pada tahap awal
gejala klinis tersebut sering kali
tidak dikenali oleh pemiliknya,
sehingga gangguan akan menjadi lebih parah. Kejadian gangguan
urinasi pada kucing menunjukkan
gejala klinis antara lain
terjadi stasis urin
dan mengalami hematuria.
Penyebab
umum terjadinya FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Desease) :
1. Urothiliasis
Urothiliasis terjadi
karena adanya pengendapan Kristal pada Urinary Tract (Saluran Kencing). Pengendapan
Kristal dapat terjadi pada bagian ureter maupun urethra dari saluran kencing.
2. Infeksi
Bacteria
Infeksi bakteri merupakan
manifestasi dari terjadinya urothiliasis. Adanya endapan Kristal pada saluran
kecil memudahkan bakteri untuk menginfeksi saluran kencing.
3. Pola
makan
Beberapa pemilik kucing memberikan
pakan dengan intensitas yang tinggi tanpa melakukan rolling food atau pergantian
makanan secara berkala. Hal tersebut tidak baik bagi kesehatan kucing. Makanan
basah yang terus menerus diberikan pada kucing dapat menyebabkan terjadinya
diare. Sedangkan makanan kering yang diberikan secara terus menerus dapat
menyebabkan terjadinya FLUTD.
Hal
tersebut berkaitan dengan kandungan zat dalam pakan kering. Pakan kering
cenderung memiliki kandungan ion MgO2 dan MgSO4 yang tinggi. Magnesium akan
membuat air kencing menjadi pekat sehingga mudah menimbulkan endapan kristal,
baik pada ureter maupun pada urethra.
Beberapa
gejala FLUTD yang dapat ditemui adalah nafsu makan yang menurun, tingkah laku
ketika kencing berbeda, hal tersebut dikarenakan kucing yang terkena FLUTD akan
merasakan sakit ketika urinasi, lemas, penurunan berat badan yang sangat
menonjol, dan muntah pada beberapa kasus.
Ciri-ciri
FLUTD pada kucing, yang pertama adalah kesulitan dan rasa sakit saat buang air
kecil (kucing akan sering mengejan), peningkatan frekuensi buang air kecil,
darah dalam urine, sering buang air kecil sembarangan di luar kotak pasir,
buang air kecil dalam jumlah sedikit, kucing meronta Ketika buang air kecil,
perubahan perilaku (murung, suka menyendiri, kucing tidak mau makan), menjilat
area genital secara berlebihan (karena rasa sakit dan iritasi pada kandung
kemih dan uretra).
Kenapa
Kucing bisa FLUTD? Penyebab kucing FLUTD pada kucing adalah karena ginjal yang
dimiliki semua jenis kucing tidak normal yang disebabkan kelainan genetik.
Tidak peduli jenis kucing, usia, dan jenis kelaminya, semua kucing memiliki
masalah ginjal karena kelainan genetic tersebut. Intinya, pada saatnya nanti
semua kucing pasti akan berpotensi terkena FLUTD cepat atau lambat.
Pada
beberapa kasus, FLUTD atau FUS pada kucing yang tidak ditangani dengan serius
akan menyebabkan terjadinya kematian. Penangan FLUTD yang dilakukan oleh dokter
hewan dapat berupa :
a. Diagnosa
Klinis, dapat dilakukan dengan palpasi kandung kemih atau Vesica Urinaria
b. Pemberian
cairan infus sebagai solusi atas terjadinya dehidrasi
c. Pemberian
obat obatan yang kerjanya mirip seperti hormon aldosteron, yaitu obat obatan
yang bersifat antispasmodik seperti atropin. Hal itu dikarenakan obat obatan
yang bersifat antispasmodik berdampak pada relaksasi otot polos.
d. Pemijatan
yang dilakukan pada urethra dengan istilah ‘Milking Technique’
e. Apabila
beberapa cara di atas tidak berhasil maka perlu dilakukan adanya operasi
f.
Pembedahan dalam penangan kasus obstruksi
ureter. Dalam penanganannya, pilihan bedah yang dapat dilakukan adalah
Ureteroneocystostomy dan anastomosis (Liat Cohen et. al. 2015)
g. Pemberian
katater (Kataterisasi). Ini merupakan langkah yang tidak begitu dianjurkan
perlakuannya oleh dokter hewan.
Pemberian
katater pada saluran kencing (Urinary Tract) dapat menyebabkan trauma pada
kucing. Pemberian pijatan atau milking technique lebih disarankan karena tidak
menimbulkan trauma.
Mencegah kucing terkena FLUTD, ada beberapa Tindakan dalam merawat kucing agar terhindar dari FLUTD di kemudian hari. Yakni, beri makan kucing dalam takaran yang ideal dan dengan jadwal yang teratur, berikan makanan kemasan (baik kering atau basah) sesuai dengan usia kucing (jangan beri makanan kucing dewasa kepada anak kucing), siapkan air minum yang bersih dan segar setiap waktu agar kucing rutin dan doyan minum teratur, sterilisasi pada kucing memberikan peluang terhindar dari FLUTD antara 30-40 %, pastikan kotak pasirnya siap dan selalu jaga dalam keadaan bersih, jangan terlalu sering merubah rutinitas kucing, pemeriksaan Kesehatan secara menyeluruh ke dokter hewan setiap 6 bulan atau 1 kali setahun, dan kurangi stress pada kucing.
Referensi :
Remigio Jordan, A. F. (2022). STUDI KASUS :FELINE LOWER URINARY TRACT DISEASE(FLUTD) PADA KUCING NOBU DI K AND P CLINIC. Jurnal Vitek Bidang Kedokteran Hewan, 46-49.

Komentar
Posting Komentar