EBOLA PADA KELELAWAR

 

Tugas:artikel penugasan penyakit pet dan hewan liar

Nama : akbar dimas herdiansyah

Nim: 193221024

 EBOLA


 

 

pengertian :

Penyakit virus ebola (PVE) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola, yang termasuk dalam famili filovirus. Penyakit ini dikenal dengan Ebola Virus Disease (EVD) atau Ebola Haemorrhagic Fever (EHF).  Terdapat enam macam genus virus ebola penyebab penyakit ini, yaitu Zaire ebolavirusBundibugyo ebolavirus (BDBV), Reston ebolavirus, Sudan ebolavirus (SUDV), Tai Forest ebolavirus (TAFV) yang dulu dikenal dengan Ivory Coast ebolavirus (CIEBOV), dan Bombali ebolavirus. Namun hingga saat ini, baru dilaporkan empat genus virus yang mengakibatkan PVE pada manusia yakni Zaire ebolavirusSudan ebolavirus, Tai Forest ebolavirus, dan Bundibugyo ebolavirus

Virus ebola pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di dua tempat secara bersamaan yakni di Yambuku (sebuah desa yang terletak tidak jauh dari Sungai Ebola, Republik Demokratik Kongo) dan Nzara, Sudan Selatan. Wabah di Afrika bagian Barat (kasus pertama pada Maret 2014) adalah yang terbesar dan paling kompleks sejak virus ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976. Negara yang terkena dampak paling parah yakni, Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Sejak tahun 2014 hingga saat ini, kasus PVE telah dilaporkan pada berbagai negara baik di Afrika, Amerika, dan Eropa, yakni Sierra Leone, Liberia, Republik Demokratik Kongo, Guinea, Uganda, Nigeria, Mali, Amerika Serikat, Italia, Senegal, Spanyol, Inggris, dan Pantai Gading. Selain itu, telah ditemukan beberapa kasus kluster yang sumber penularannya dari survivor Ebola baik di Liberia, Guinea, dan Sierra Leone. Penularan tersebut diketahui karena adanya kontak dengan cairan tubuh survivor. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyatakan PVE sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD) akibat timbulnya wabah PVE di Republik Demokratik Kongo pada 17 Juni 2019 namun telah dideklarasikan berakhir pada 26 Juni 2020. 

 

 

 

Epidemiologi:

Binatang juga bisa menjadi pembawa virus. Virus ini mampu memperbanyak diri di hampir semua sel inang. Khususnya kelelawar mampu menularkan virus tersebut. Codot dan kalong termasuk jenis kelelawar besar. Di Afrika, sebagian besar jenis hewan ini membawa virus di dalam tubuhnya, termasuk di antaranya virus Ebola. Tidak seperti manusia, kelelawar kebal terhadap virus-virus tersebut. Karena sering dijadikan bahan makanan, virus yang terdapat pada daging kelelawar dapat dengan mudah menjangkiti manusia.

Sejak tahun 2014 hingga saat ini, telah dilaporkan sebanyak 32.486 kasus PVE dengan 13.812 kematian (CFR: 42,52%). Lima negara dengan pelaporan tertinggi kasus PVE adalah Sierra Leone (14.124 kasus), Liberia (10.678 kasus), Guinea (3.837 kasus), Republik Demokratik Kongo (3.758 kasus), dan Uganda (52 kasus).

Wabah penyakit virus Ebola saat ini sedang terjadi di negara Uganda, Afrika melalui deklarasi resmi yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan Uganda pada 20 September 2022. Wabah ini disebabkan oleh Sudan ebolavirus (SUDV), dimana wabah akibat tipe virus ini terjadi terakhir di Uganda pada tahun 2012.  Terhitung hingga 28 September 2022, telah dilaporkan sebanyak 49 kasus PVE (31 kasus konfirmasi dan 18 kasus probable) dengan 24 kematian (6 kasus konfirmasi dan 18 kasus probable) [CFR di antara kasus konfirmasi: 19,4%]. Kasus tersebut dilaporkan pada tiga distrik di Uganda, yakni Mubende, Kyegegwa, dan Kassanda. 223 kontak sudah ditemukan hingga 25 September 2022.  (Sumber: Disease Outbreak News WHO: Ebola Disease caused by Sudan virus - Uganda, tanggal 26 September 2022 dan WHO Africa Region's News: Uganda Defines Priorities and Needs in Its Ebola Response Plan, tanggal 1 Oktober 2022).

WHO menilai risiko penyebaran PVE di Uganda saat ini tergolong tinggi pada tingkat nasional dan tergolong rendah pada tingkat regional dan global. Hal tersebut dilandaskan dengan pertimbangan sebagai berikut:

·         Belum adanya vaksin yang teruji efektif terhadap tipe virus/strain Sudan Ebola Virus

·         Belum teridentifikasi awal mula terjadinya penularan karena proses investigasi masih berjalan

·         Penggunaan APD yang tidak sesuai dalam penanganan pasien-pasien suspek PVE serta kasus terkonfirmasi PVE yang meninggal dimakamkan secara tradisional serta melibatkan orang dalam jumlah besar

·         Walaupun Uganda telah meningkatkan kapasitas dalam pengendalian PVE, masih terdapat kemungkinan timbul permasalahan apabila kasus meningkat secara drastis dan masih terjadinya beberapa kejadian penyakit lain seperti COVID-19, anthrax, demam kuning, dan demam Rift Valley.

Selain itu, walaupun Distrik Mubende tidak memiliki perbatasan internasional, risiko penularan antar negara masih dapat terjadi karena intensitas aktivitas pelintas negara yang tinggi. Kasus pun ditemukan pada sekitar pertambangan emas yang masih aktif, sehingga memungkinkan para pedagang komoditas di sekitar area itu melakukan mobilisasi ke wilayah lain meski sudah memasuki masa inkubasi.

Gejala klinis:

Masa  inkubasi  bervariasi  tergantung  pada spesiesvirus Ebola yang menginfeksi dan konsentrasi virus itu sendiri. Kera cynomolgus yang  diinokulasi  dengan ZEBOV melalui oral atau  konjungtiva  akan menghasilkan  gejala  klinis  dalam  waktu tiga sampai empat hari.  Masa  inkubasi  infeksi ZEBOV pada  kera rhesus dan  monyet vervet berlangsung  antara tiga sampai  16  hari,  sedangkan pada  kelinci  percobaan, masa  inkubasi  terjadi  antara 4-10 hari. Pada  monyet percobaan  yang  terinfeksi, pada  umumnya menunjukkan gejala seperti demam disertai perdarahan hebat dan menyeluruh, tidak ada nafsu makan, muntah, pembengkakan  limpa  dan  penurunan  bobot  hidup

pendarahan dapat terjadi pada kulit, saluran pencernaan atau  selaput  lendir. Bila  gejala  berlanjut  dapat menyebabkan shock dan  hipotermia, serta berakhir dengan  kematian (The  Center  for  Food  Security  & Public Health 2009).

 

 

 

 

Patologi:

Patofisiologi Ebola virus disease (EVD) pada manusia adalah virus Ebola menginfeksi banyak sel, seperti monosit, makrofag, sel dendritik, sel endotel, fibroblast, hepatosit, sel kortikal adrenal, dan sel epitel. Virus Ebola akan bermigrasi menuju kelenjar getah bening, lalu ke hati, limpa, serta kelenjar adrenal.[3,4]

Virus Ebola memiliki genom RNA beruntai negatif nonsegmented yang mengandung 7 gen struktural dan pengatur. Kode genome Ebola terdiri dari 4 protein struktural virion (VP30, VP35, nucleoprotein, dan protein polymerase [L]), dan 3 protein terkait membrane (VP40, glikoprotein [GP], dan VP24). Setelah manusia atau primata terinfeksi, masa periode awal replikasi virus akan berkembang cepat.[3,4]

Walaupun limfosit tidak terinfeksi virus ebola, tetapi limfosit tetap mengalami apoptosis yang menyebabkan penurunan jumlah limfosit dalam tubuh. Kemudian terjadi juga nekrosis hepatoseluler yang berhubungan dengan disregulasi proses pembekuan darah dan koagulopati. Selain itu, virus ebola juga memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi yang menyebabkan kebocoran vaskuler dan gangguan pembekuan darah, sehingga terjadi kegagalan multiorgan dan syok hipovolemik.[3,4]

 

Diagnose:

Diagnosis penyakit virus ebola dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium meliputi antibody-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), tes deteksi antigen-capture, serum neutralization, reverse-trancriptase polymerase chain reaction (RT-PCR), electron microcopy, dan isolasi virus dengan kultur sel.

 

Pencegahan penyakit:

pencegah atau membatasi penularan infeksi di sarana pelayanan kesehatan memerlukan penerapan prosedur dan protokol yang disebut sebagai “kewaspadaan isolasi”. Secara umum pencegahan dan pengendalian infeksi pada penyakit virus Ebola kewaspadaan standar dan kewaspadaan kontak. Pada tindakan tertentu yang menghasilkan butir-butir aerosol (Inhalasi/Nebulizer) dan tindakan invasif lainnya seperti melakukan intubasi, suctioning, swab tenggorok dan hidung perlu dilakukan penambahan kewaspadaan airborne.

Melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) sesuai prosedur. Ada 5-moments dimana harus dilakukan kebersihan tangan yaitu sebelum kontak pasien, setelah kontak pasien, sebelum melakukan tindakan medis, sesudah kontak dengan bahan infeksius dan setelah kontak dengan lingkungan pasien. Penggunaan APD sesuai dengan prosedur untuk memakai dan melepaskan secara benar.

Berkaitan dengan vaksinasi, telah dikembangkan vaksinasi dengan nama "Ervebo vaccine" yang sudah teruji efektif dalam melindungi masyarakat terhadap strain Zaire ebolavirus.

Pencegahan lainnya:

·         Menghindari kontak langsung dengan penderita maupun jenazah penderita penyakit virus ebola adalah cara yang tepat, karena penyakit ini dapat menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya.

·         Menggunakan alat pelindung diri yang lengkap sesuai SOP dan mencuci tangan sesuai prosedur adalah cara terbaik dalam melindungi diri setelah kontak pasien, sebelum melakukan tindakan medis, sesudah kontak dengan bahan infeksius dan setelah kontak dengan lingkungan pasien.

·         Melakukan vaksinasi bila hendak bepergian ke daerah/negara terjangkit.

·         Sampel cairan dan jaringan tubuh dari penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati dan sesuai dengan pencegahan dan pengendalian penyakit infeksi.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING