CHRONIC KIDNEY DISEASE PADA KUCING

 

Nama               : Renata Nadia Desideria

NIM                : 193221029

Kelompok       : Moniezia benedeni

 

CHRONIC KIDNEY DISEASE PADA KUCING



Chronic kidney disease (CKD) adalah penyakit yang umum terjadi pada kucing. Prevalensi CKD pada kucing bervariasi antara 1-3%, meningkat pada usia 10 tahun menjadi 7,5% dan mencapai antara 15 dan 30% pada usia di atas 15 tahun (Paepe 2014). Kucing biasanya tidak menunjukkan gejala klinis CKD hingga telah mencapai stadium penyakit lanjut. Gejala klinis berupa poliuria, polidipsia, penurunan berat badan, anoreksia parsial dan kelesuan yang berkembang pada stadium 2 dan 3. Poliuria dan polidipsia merupakan tanda awal CKD yang sering terabaikan oleh pemilik. Tanda klinik yang lebih sering dan parah pada kucing dengan CKD stadium 4 yaitu muntah dan letargi (IRIS 2017).

Penyakit ginjal kronis bersifat ireversibel dan tidak dapat disembuhkan sehingga diperlukan diet yang tepat untuk dapat memperbaiki kualitas serta kenyamanan hidup dan memperpanjang hidup hewan (Bartges, 2012). Penyakit ginjal kronis Penyakit ginjal kronis adalah kelainan struktural atau fungsional dari satu atau kedua ginjal yang muncul dalam jangka waktu yang lama, bersifat ireversibel dan kemungkinan merupakan manifestasi akhir dari berbagai macam penyakit seperti penyakit penyakit infeksius, iatrogenik, metabolisme, kongenital, bahan toksik, traumatik, neoplasi, dan proses obstruksi yang menyerang ginjal (Lawson dkk., 2015). Sedangkan menurut Bargman dan Skorecki (2013), penyakit ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana tubuh gagal untuk mempertahankan proses metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga menyebabkan uremia.

Gejala awal CKD umumnya poliuria dengan polidipsia kompensatorik, anoreksia, letargi, kaheksia, dan yang jarang ditemui pada awal CKD tetapi umum pada fase lanjutan yaitu gejala gastrointestinal. Pemeriksaan fisik pada hewan CKD menunjukkan berkurangnya massa otot akibat status nutrisi, murmur jantung akibat kondisi anemia atau hipertensi, dehidrasi karena terbuangnya cairan pada proses poliuria, dan perubahan ukuran serta bentuk dari organ ginjal dengan ada maupun tidaknya rasa sakit (Foster 2013). Diagnostik standar untuk ginjal yaitu pemeriksaan darah lengkap, biokimia serum, dan urinalisis. Ultrasonografi (USG) dan radiografi juga digunakan sebagai diagnosis dini untuk menegakkan diagnosa. Umumnya, pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anemia (Nelson & Couto 2013). Pemeriksaan biokimia serum lebih diarahkan pada peningkatan BUN dan kreatinin yang berhubungan dengan kondisi azotemia (Geetha 2008). Urinalisis dilakukan dengan mempertimbangkan konsentrasi urin, pH, dan keberadaan protein, sel darah, bakteri, dan sel lain yang umumnya tidak boleh ditemukan dalam urin (Cornell Feline Health Center 2019). Gambaran USG pada ginjal normal dapat dibedakan antara korteks dan medula karena akan berbentuk khas seperti kumbang (Colville & Bassert 2016)

Patogenesis penyakit ginjal kronis pada anjing dan kucing meliputi umur, ras, diet dan penyakit periodontal (Lulich dkk.,1992; O’Neill dkk., 2013). Menurut Brown (2010), prevalensi penyakit ginjal kronis pada anjing adalah 0,5 – 1%, sedangkan pada kucing 1% - 3% dan kejadian akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur terutama pada kucing. Sedangkan menurut Lulich dkk. (1992), prevalensi kucing penderita penyakit ginjal kronis berumur lebih dari 10 tahun adalah sebesar 10%, umur 15 tahun ke atas sekitar 30% - 50 % (Ross dkk., 2005) dan 28% pada kucing diatas 12 tahun (Bartlett dkk., 2010). Ras juga merupakan salah satu faktor predisposisi kejadian penyakit ginjal kronis. Prevalensi kejadian penyakit ginjal kronis dua kali lipat pada kucing jenis Maine Coon, Abyssinian, Siamese, Russian Blue, dan Burmese (Lulich dkk., 1992). Anjing ras yang memiliki kecenderungan mengalami penyakit ginjal kronis antara lain Cocker Spaniel (Lees dkk., 1998), Bull Terrier (Jones dkk.,)

 

Umumnya, penyakit CKD dialami oleh kucing dewasa. Namun, ini tidak berarti kucing yang masih muda imun terhadap penyakit ginjal kronis. Pada kucing muda, penyakit CKD umumnya diderita oleh kucing dalam rentang usia 2-5 tahun. Adapun beberapa gejala klinis yang umum dijumpai pada kasus CKD, sebagai berikut:

1.      Penurunan Berat Badan dan Anemia

Kucing dengan penyakit ginjal kronis umumnya mengalami penurunan berat badan. Ini disebabkan oleh menumpuknya zat-zat sisa metabolisme dalam tubuh, salah satunya asam dalam darah. Penumpukan ini membuat kucing tampak lesu dan lemas. Tak jarang mereka pun kehilangan nafsu makan yang berujung pada penurunan berat badan.

2.      Lebih Banyak Minum

Penyakit ginjal kronis pada kucing ditandai dengan peningkatan intensitas minum. Kucing akan mudah merasa haus bahkan dehidrasi karna ia lebih banyak mengeluarkan urine. Itulah sebabnya, untuk mengimbangi kondisi hilangnya air dalam tubuh, kucing akan minum lebih banyak dari biasanya.

3.      Rabut Kusam

Perubahan warna pada bulu kucing juga bisa jadi tanda adanya masalah di dalam tubuh. Ada berbagai penyakit yang menyebabkan bulu kucing kusam, salah satunya adalah CKD. Karenanya, penting untuk selalu memperhatikan perubahaan sekecil apapun yang dialami kucing.

4.      Gusi Pucat

Kucing dengan penyakit ginjal kronis rentan mengalami penumpukan asam dalam darah mereka. Ini mempengaruhi fungsi berbagai sistem organ di dalam tubuh kucing. Salah satunya menyebabkan anemia, penurunan konsentrasi sel darah merah dalam darah. Inilah yang menyebabkan gusi kucing menjadi pucat. Dalam kasus yang parah, bahkan gusi bisa berwarna keputihan.

Diagnosa penyakit ginjal kronis pada kucing dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan. Adapun pemeriksaan CKD meliputi, pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah biokimiawi, diagnostic imaging dengan USG atau X-ray dan pemeriksaan urin. Perlu diingat, bahwa penyakit ginjal kronis bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan secara total namun penyakit ini bisa dikendalikan.

Penyakit ginjal seperti gagal ginjal kronis adalah kondisi yang tampaknya tidak dapat disembuhkan, terutama yang dialami kucing yang lebih tua. Dokter hewan mungkin akan merekomendasikan terapi cairan, modifikasi makanan, obat tekanan darah, dialisis, atau transplantasi

            Beberapa cara untuk mencegah supaya kucing tidak terkena CKD, antara lain:

1.      Kotak kotoran kucing diletakkan di tempat terjangkau

Posisi kotak “toilet” kucing ternyata juga mempengaruhi gaya hidupnya. Agar kucing tetap sehat, usahakan untuk meletakkan kotak “toilet” di tempat yang terjangkau. Dengan begitu, kucing akan lebih mudah menjangkaunya saat hendak membuang kotoran.

2.      Jadwalkan pemeriksaan rutin

Penyakit ginjal kronis pada kucing bukanlah penyakit semalam. Itulah sebabnya, penting untuk rutin memeriksa kesehatan kucing. Terutama jika ada gejala-gejala serius dan menjurus ke penyakit gagal ginjal kronis. Biasanya, dokter hewan akan mengarahkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Metode pemeriksaan ini penting untuk mendeteksi perubahan kecil dalam tubuh kucing.

3.      Pastikan kucing cukup minum

Agar ginjal tetap sehat, kucing harus cukup minum. Untuk itu, harus selalu memperhatikan wadah minum kucing. Pastikan selalu terisi air segar sehingga kucing bisa minum kapanpun ia mau. 

4.      Beri makanan basah

Terkadang kucing sulit minum. Untuk memastikannya tetap terhidrasi dengan baik, bisa mensiasatinya dengan memberi makanan yang mengandung kadar air yang tinggi. Ini bisa menjadi alternatif agar kucing tetap minum tiap harinya.

5.      Jaga berat badan kucing tetap ideal

Obesitas pada kucing dapat menyebabkan beberapa penyakit serius, salah satunya penyakit ginjal kronis. Bila berat badan kucing melebihi batas normal, segera berkonsultasi dengan dokter hewan terpercaya untuk mendapat arahan diet yang tepat.

#TUGASHALOHMKH2022

#RENATANADIADESIDERIA

#1_MONIEZIABENEDENI

#KHSIKIAUNAIR

#VIVAVETERINER

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

penyakit metabolic bone disease pada iguana

Mengenal FIV, Virus Mematikan Pada Kucing

TOKSOPLASMOSIS PADA KUCING